Bulan Desember kemarin, tepatnya dari tanggal 25- 28 Desember 2013, saya dan istri sepakat untuk :bertualang" ke Chiang Mai, satu destinasi yang sudah lama ingin saya kunjungi kembali karena terakhir kali ke sana sekitar 20 tahun silam. Lama banget ya? Kebetulan Thai Lion Air baru saja membuka rute Jakarta - Chiang Mai via Bangkok dan kami dapat harga relatif murah, sekitar 3,6 juta rupiah untuk berdua pp. Murah kan? Ya iyalah, soalnya saat itu masih banyak orang yang ngga tahu kalo Lion sekarang menerbangi rute ke Bangkok dan Chiang Mai, yang dijuluki: The rose of the north".
Sebetulnya tujuan kami berdua tadinya adalah Mae Hong Son, dan Chiang Mai hanya sekedar numpang lewat aja. Ini gara-gara nonton film Thailand berjudul "Melody" yang shootingnya di Mae Hong Son. Di film tersebut ada adegan yang diambil di area yang penuh dengan bunga matahari bermekaran....keren abisssss... mengingatkan kami berdua saat ke Tuscany, Italia, beberapa tahun lalu. Selain itu yang bikin kami penasaran ingin ke Mae Hong Son adalah temperatur udara yang lumayan dingin, apalagi saat bulan November sampai February. Kapan lagi coba bisa kedinginan di Thailand yang dikenal sebagai daerah "panas"?
 |
| Sebetulnya pengennya ke sini, ladang bunga matahari di Mae Hong Son. |
Mimpi tinggal mimpi, ternyata ngga semudah itu ke Mae Hong Son karena kendala transportasi dan biaya. Kalau mau murah, naik bis dari Chiang Mai ke Mae Hong Son, tapi lamanya minta ampun, sekitar 8 jam. Belum baliknya, sementara kami hanya punya waktu 4 hari saja. Mau cepat?Naik pesawat terbang dari Chiang Mai ke Mae Hong Son. Ada Nok Air (maskapai yang moncong pesawatnya digambari paruh bebek) atau Kan Air yang ukuranpesawatnya kecilan dikit dari metro mini. Tapi harga tiketnya yang ga nahan, khususnya bagi "kere" yang pengen plesir seperti kami tapi dana cekak. Alhasil, akhirnya diputuskan batal ke Mae Hong Son dan sebagai gantinya kami akan stay di Chiang Mai saja.
Chiang Mai sendiri sebetulnya menarik untuk dikunjungi. Kalau misalnya Bangkok itu ibaratnya Jakarta dan Phuket adalah Bali, maka Chiang Mai itu mirip Jogja. Dalam artian Chiang Mai adalah kota kecil, tenang, sedikit saja bangunan tinggi dan pusat keramaian terletak di area kota tua yang dikelilingi oleh parit lebar peninggalan jaman dulu. Untuk eksplorasi kota ini, bisa dengan jalan kaki saja (asalkan Anda punya kaki yang kuat). Tidak perlu kendaraan bermotor seperti di Bangkok misalnya. Selain itu tiap malam di dekat area kota tua digelar pasar malam (night bazaar) yang menjual aneka barang murah meriah dengan kualitas bolehlah. Cocok untuk orang Indonesia yang hobby belanja! Selain itu udara di Chiang Mai pada bulan-bulan November sampai February relatif dingin. Kami saja sampai tidak perlu menyalakan AC di kamar hotel karena tanpa AC pun udara sudah dingin. Bahkan saya yang biasanya tahan tidur dengan AC tanpa selimut, kali ini harus menyerah kalah.
So, kami sudah definit akan mengunjungi Chiang Mai. Langkah berikutnya adalah mencari penginapan murah meriah yang sesuai dengan isi kantong kami dan menentukan apa yang akan dilakukan selama di sana. Mulailah kami browsing kiri kanan depan belakang. Kebanyakan hostel yang murah meriah tapi bersih dan aman berada di area kota tua, sedangkan kami ingin lokasi yang tidak jauh dari area Night Bazaar, sementara area kota tua agak jauh dari Night Bazaar. Akhirnya kami menemukan satu hotel yang lokasinya tidak jauh dari Night Bazaar, harga terjangkau, aman dan bersih, yaitu Riverside Hotel. (www.riversidehousechiangmai.com). Ada beberapa tipe kamar yang tersedia, namun kami memilih tipe Superior yang dilengkapi AC dan TV. Harganya 700 Baht / kamar /malam termasuk makan pagi berupa toast dan buah (sekitar IDR 280.000 / malam). Lumayan kan?Ada kolam berenangnya lagi, walau kami ngga akan pake juga sih...wong udaranya dingin begitu, sapa juga yang mau berenang? Mau tau seperti apa hotelnya? Nih dia:
 |
| Kolam renang di Riverside House |
 |
| Kamar tidur tipe Superior |
|
Yang paling penting bagi kami adalah pihak hotel tidak keberatan bila kami membuat reservasi terlebih dahulu dan membayar cash upon arrival. Sedangkan hotel-hotel lain yang kami check umumnya meminta pembayaran deposit dengan kartu kredit via internet, yang karena satu dan lain hal kami hindari. Memang hotel ini tidak bisa dibandingkan dengan hotel berbintang, tapi dengan harga serendah itu, what do you expect? Lagipulakami toh akan menghabiskan sebagian besar waktu di luar, tidak di hotel.
Urusan hotel sudah kelar, nah sekarang soal acara. Tadinya kami ingin menjelajah sendiri obyek wisata yang ada di Chiang Mai dengan cara menyewa sepeda motor lalu melakukan petualangan Sherina. Namun ternyata rata-rata obyek tersebut berada lumayan jauh dari Chiang Mai. Ditambah lagi waktu kami sangat terbatas sementara kami ingin melihat sebanyak mungkin obyek wisata yang ada (biasa...ogah rugi), akhirnya kami putuskan untuk memakai jasa tour operator yang banyak bertebaran di Chiang Mai. Ternyata di sana banyak tour operator yang menawarkan paket tour Seat in Coach (budget tour kalau istilah mereka). Apa itu Seat in Coach? Ini adalah tour dimana pesertanya adalah tamu dari beberapa tour operator yang berbeda namun memilih obyek wisata yang sama dan pada hari yang sama pula. Maka digabunglah mereka sehingga menjadi grup dan harganya menjadi lebih murah. Kalau misalnya tidak mau gabung dengan orang lain (private tour) ya bisa juga, tapi harganya akan lebih tinggi. Untuk kami berdua yang memilik motto "Biar kere asal blagu", jelas opsi budget tour adalah pilihan yang terbaik Tinggal sekarang menentukan tour operator mana yang akan dipakai. Setelah browsing lagi dan lagi, kami menemukan situs My Chiang Mai Tour (www.mychiangmaitour.com). Kenapa kami pilih mereka? Selain harga mereka yang relatif lebih rendah sedikit dibanding kompetitor, jawaban yang cepat, tapi yang terutama adalah soal kepercayaan. Tadinya Ms Bee dari My Chiang Mai Tour meminta pembayaran deposit dengan kartu kredit, namun setelah dijelaskan bahwa kami tidak mau pakai kartu kredit dan akan bayar cash setibanya di sana, dia meluluskan permintaan kami.Padahal hal tersebut termasuk berisiko mengingat kami mengambil beberapa tour sekaligus dan salah satunya ada yang dilakukan pada hari pertama kami tiba di Chiang Mai. Seandainya kami "nakal" dan mendadak batal, dia bisa terkena penalti karena sudah memesan tempat, mobil dan sebagainya. Apalagi dia ngga pernah kenal saya sebelumnya sehingga kemungkinan tertipu semakin besar. Saya saja yang juga bekerja di travel agent masih mikir 10 x kalau ada tamu yang pesan tour dan akan bayar pada Hari-H. Lha dia? Makanya, karena tersentuh dengan kebaikan dan kepercayaan dia pada kami, kami putuskan untuk memakai jasanya. Ternyata setelah ketemu dengan yang bersangkutan, orangnya emang baik dan ramah walau kantornya kecil (ngga nyambung ya?).
 |
| Di kantor My Chiang Mai Tour dengan Ms Bee (yang berdiri pakai rok kuning) |
Dari tadi ngomongin hotel dan tour melulu, tapi kayak apa kota Chiang Mai sendiri? Nih dia beberapa sudut-sudut kota Chiang Mai:
 |
| Suasana Night Bazaar di Chiang Mai |
 |
| Alun-alun Chiang Mai dengan patung 3 raja |
 |
| Di tepi Sungai Ping |
 |
| Pasar Warorot |
 |
| Jembatan besi di atas Sungai Ping |
Di Chiang Mai sendiri ada beberapa obyek wisata yang kerap dikunjungi turis, namun yang saya ceritakan disini hanyalah obyek-obyek wisata yang kami kunjungi saat itu, yaitu:
Doi Suthep:
Ini adalah pagoda utama di Chiang Mai dan terletak sedikit di luar kota Chiang Mai, yaitu di gunung (Doi dalam bahasa setempat) Suthep. Di pagoda ini tersimpan relik Sang Buddha, Sidharta Gautama, berupa salah satu tulang bahunya. Itu sebabnya pagoda ini dianggap suci oleh umat Buddha di Thailand dan merupakan salah satu pagoda yang populer di Chiang Mai. Karena lokasinya yang berada di dataran tinggi, maka pengunjung yang ingin ke sana harus menaiki anak tangga yang jumlahnya 309 buah dan diapit pegangan berupanaga, atau menaiki kereta kabel dengan membayar sekitar 30 Baht per orang. Dari pelataran pagoda, Anda dapat menikmati keindahan kota Chiang Mai dari ketinggian.
 |
| Deretan lonceng di Doi Suthep Temple |
 |
| Tangga naga menuju Doi Suthep |
 |
| Doi Suthep |
Doi Inthanon:
Ini juga pagoda yang terletak di luar kota Chiang Mai, namun keistimewaannya adalah pagoda ini terletak di puncak gunung tertinggi di Thailand, yaitu Gunung (Doi) Inthanon. Pagoda ini sendiri terletak di dalam Doi Inthanon National Park.Di sana terdapat 2 pagoda, yang satu didirikan pada tahun 1987 untuk memperingati ulang tahun ke 60 Raja Thailand Bhumibol Aduljadej (sehingga sering disebut The King Pagoda) dan yang kedua didirikan sebagai peringatan ulang tahun ke 60 Ratu Sirikit pada tahun 1992 sehingga sering disebut The Queen Pagoda. Dari halaman pagoda ini pemandangan luar biasa indah karena awan berada di bawah kita.
 |
| Air terjun di jalan menuju Doi Inthanon Temple |
 |
| King's Temple Doi Intahon |
 |
| Pemandangan dari pelataran Doi Inthanon |
White Temple
Terletak di Propinsi Chiang Rai, pagoda ini meiliki keunikan tersendiri dibanding pagoda lain di Thailand. Keunikannya bukan hanya terletak pada warnanya yang serba putih (sehingga disebut White Temple, kecuali bangunan toilet yang dicat dengan warna kuning emas), namun juga arsitekturnya yang luar biasa unik. Memberikan gambaran neraka dan surga, di pagoda ini pengunjung akan berjalan melewati jembatan yang dibawahnya terdapat ratusan tangan yang menggapai dari dalam lubang neraka, serta ada kepala-kepala iblis. Jembatan itu sendiri menuju ke suatu ruangan kecil yang di dalamnya terdapat patung Buddha berwarna emas dan bagian interior ruangan dilukis dengan gambaran Nirwana. Anda tak akan menjumpai pagoda seunik ini di tempat lainnya - setidaknya sampai saat ini -karena itu jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjunginya.
 |
| "Alkohol membawamu ke neraka" demikian salah satu pesan di White Temple |
 |
| White Temple, Chiang Rai. |
 |
| Tangan yang menggapai dari dasar neraka |
Golden Triangle
Dinamakan demikian karena area ini berbentuk segi tiga imajiner yang terbentuk dari pertemuan perbatasan 3 negara, yaitu Thailand, Myanmar dan Laos. Di masa lampau aea ini terkenal sebagai penghasil utama opium di Asia dan merupakan daerah tak bertuan yang dikuasai oleh raja opium Khun Sa. Namun setelah kehancuran bisnis Khun Sa, tidak ada lagi ladang opium yang tersisa dan area ini sekarang menjadi area turisme. Bagi pengunjung yang datang ke area ini, kalau mau mereka bisa menyeberang ke area Laos tanpa memerlukan visa atau passport untuk mengunjungipasar yang terdapat di sana, yang menjual aneka barang buatan lokal maupun import dari China. Cukup dengan membayar 30 Baht saja per orang untuk biaya ijin masuk Laos.
 |
| Di areaGolden Triangle |
 |
| Kapal yang kami tumpangi di Sungai Mekong untuk menyeberang ke Laos |
 |
| Pasar di wilayah Laos |
 |
| Selamat datang di Laos |
Long Neck Karen
Tak jauh dari area Golden Triangle ini ada perkampungan Suku Karen Leher Panjang (Long Neck Tribe), yaitu suku yang kaum wanitanya mengenakan gelang-gelang besi di lehernya dengan jumlah bervariasi. Gelang-gelang ini mulai dienakan saat mereka masih kecil hingga dewasa dan seiring pertambahan usia, jumlah gelang yang dipakai juga bertambah sehingga leher merekapun menyesuaikan diri dengan bertambah panjang. Alasan utama pemakaian gelang ini adalah selain sebagai alat keamanan untukmencegah gigitan harimau di tengkuk mereka (karena di masa lalu banyak wanita leher panjang yang bekerja di perkebunan karet dan sering ada kejadian macan menerkam manusia), juga untuk alasan kecantikan...setidaknya dari sudut pandang mereka. Yang menakjubkan adalah, gelang-gelang tersebut ternyata beratnya lumayan juga, paling tidak sekitar 3 - 5 kg! Kebayang ngga pakai gelang seberat itu di leher setiap hari? Satu hal lagi, entah kenapa kok rasanya wajah wanita dewasa suku leher panjang inipada mirip ya satu sama lain? Ga hanya model rambutnya saja yang mirip, tapi juga mukanya. Apa ngga bingung tuh ya suaminya? Atau mata saya aja yang siwer?
 |
| Papan penunjuk ke permukiman Suku Karen Long Neck |
 |
| Suasana di perkampungan Long Neck Karen |
 |
| Salah satu "foto model" Long Neck Karen |
Kanthok Dinner
Yang satu ini bukanlah nama tempat, tetapi jamuan makan ala suku Lanna yang merupakan suku asli Thailand Utara. Keunikan hidangan Kanthok Dinner adalah makanan disajikan di atas semacam meja kayu bundar kecil dan hidangan ditempatkan dalam mangkuk-mangkuk kecil, disantapdengan nasi atau ketan putih. Hidangan ini terdiri dari daging, gorengan, sayur, kentang goreng manis dan ayam. Hidangan dinikmati sambil lesehan atau duduk di kursi biasa seraya menikmati pertunjukkan tarian rakyat Thailand. Saya pribadi menyukai jamuan makan Kanthok ini karena rasanya berbeda dari hidangan Thailand yang sudah umum dikenal seperti Toom Yam, ayam daun pandan dan sejenisnya. Ada pengalaman baru yang bisa didapatkan disini. Namun untuk umat muslim, saat booking tempat di jamuan Kanthok Dinner, pastikan untuk meminta menu halal karena daging yang biasanya dihidangkan adalah daging babi. Untuk mereka yang mengunjungi Chiang Mai, mencicipi Kanthok Dinner sangat disarankan!!!
 |
| Kanthok Dinner |
 |
| Begini nih duduk di Kanthok Dinner |
 |
| Hidangan yang disajikan |
 |
| Tarian rakyat Thailand yang dipertontonkan saat para tamu menikmati hidangan |
Demikianlah cerita saya kali tentang petualangan di Chiang Mai. Nanti kalau ada cerita lain tentang perjalanan ke negara atau tempat lain, pasti saya bagi-bagi cerita lagi. Ciaooo...!!