Sabtu, 02 Februari 2013

Menjelajah Cina selatan

Pada tanggal 14 - 18 Januari 2013 saya mendapat kesempatan untuk menjelajah kota di China bagian selatan, yaitu Guangzhou dan Humen. Memanfaatkan fasilitas tiket khusus dari China Airlines, saya terbang ke China melalui Hong Kong. Lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pada tanggal 14 Januari jam 00.50 lepas tengah malam, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Chek Lap Kok Hong Kong sekitar jam 07.00 pagi waktu setempat. Setelah membersekan urusan imigrasi dan mengambil bagasi, saya dan rombongan yang berjumlah 12 orang mulai celingak celinguk mencari sopir yang bertugas menjemput kami. Kami akan menggunakan 2 Toyota Alphard dari Hong Kong menuju Guangzhou, dan perjalanan diperkirakan memakan waktu tempuh sekitar 2,5 - 3 jam, tergantung dari kepadatan di pos perbatasan Hong Kong - China. Nah, itu dia sopir kami telah menanti. Maka dimulailah petualangan kami menjelajah China Selatan. Guangzhou, here we come!!!


Jembatan yang banyak terdapat di Hong Kong

Di perbatasan Hong Kong - China daratan


Setelah menyusuri jalanan di Hong Kong dengan melintasi banyak jembatan, kami tiba di pos perbatasan Hong Kong - China daratan. Karena saat itu masih relatif pagi, tidak banyak antrian kendaraan. Pemeriksaan berjalan cepat dan lancar; para penumpang van dan sedan tidak perlu turun dari kendaraan, cukup kasih passport dan setor muka, stempel dan beres sudah! Beda halnya dengan penumpang umum Hong Kong - China, mereka wajib turun dari bis sambil membawa semua barang bawaannya lalu antri di imigrasi untuk dicap passportnya. Setelah itu baru naik kembali ke bis untuk meneruskan perjalanan.

Hotel Guangzhou Pin Guan

 Lepas tengah hari kami tiba di Hotel Guangzhou Pin Guan, Guangzhou, tempat kami menginap. Walau terletak di selatan China, udara di Guangzhou saat itu masih lumayan dingin, sekitar 15 - 17 derajat Celsius. Orang-orang yang berlalu lalang semuanya mengenakan jaket, celana panjang dan kaum wanitanya banyak yang mengenakan sepatu boot untuk melawan hawa dingin. Ini berlawanan sekali dengan suasana Guangzhou saat musim panas dimana banyak orang hanya mengenakan singlet saking panasnya udara. Saya mah seneng-seneng aja dengan udara dingin ini karena jadi enak buat berjalan-jalan. Hotel tempat kami menginap tergolong hotel tua, tapi lokasinya lumayan strategis karena dekat dengan beberapa pusat perbelanjaan, khususnya Beijing Lu (Beijing Road) yang merupakan "Orchard"-nya Guangzhou. 

Sudut-sudut Beijing Street
 
Situs tembok kota tua Gungzhou
Bagi para pelancong yang ingin melihat aneka tempat wisata atau keindahan alam, mungkin tidak banyak yang bisa dilihat di Guangzhou. Namun bagi mereka yang hobby berbelanja, maka Guangzhou adalah surganya. Di sini bisa Anda dapatkan aneka barang berbagai jenis, dari yang orisinil, semi orisinil sampai jiplakan dengan harga yang relatif terjangkau. Pakaian, sepatu, mainan, alat-alat rumah tangga dan berbagai produk lainnya hampir semuanya bisa dijumpai disini. Biasanya sih koper para turis akan beranak pinak sepulangnya dari Guangzhou. 

Jangan lupakan pula wisata kuliner, Guangzhou menawarkan aneka hidangan yang lezat-lezat. Berbicara tentang wisata kuliner, ada satu kebiasaan menarik yang saya jumpai selama di Guangzhou (dan juga Humen yang merupakan kota tetangga). Saat kita akan bersantap di restoran (biasanya restoran besar) para pengunjung akan dihidangkan teh panas dan mangkuk. Tadinya saya kira teh itu untuk minum, ternyata teh panas tersebut digunakan untuk membasuh peralatan makan yang akan kita pakai bersantap dan air limbahnya akan ditampung dalam mangkuk yang telah disediakan. Hal ini bukan karena peralatan makan yang disediakan kotor, bahkan sebaliknya mereka bersih mengkilat dan disegel dalam plastik tertutup. Tapi hal ini lebih merupakan kebiasaan rakyat setempat, khususnya dari suku Hunan kalau saya ngga salah. Seingat saya kebiasaan macam ini tidak saya jumpai waktu mengunjungi Beijing dan Shanghai...atau saya aja kali ya yang ngga tau saat itu? Hehe..

Fish market di Guangzhou
  
Guangzhou Tower