Kamis, 23 Januari 2014

Chiang Mai, "The rose of the north".

Bulan Desember kemarin, tepatnya dari tanggal 25- 28 Desember 2013, saya dan istri sepakat untuk :bertualang" ke Chiang Mai, satu destinasi yang sudah lama ingin saya kunjungi kembali karena terakhir kali ke sana sekitar 20 tahun silam. Lama banget ya? Kebetulan Thai Lion Air baru saja membuka rute Jakarta - Chiang Mai via Bangkok dan kami dapat harga relatif murah, sekitar 3,6 juta rupiah untuk berdua pp. Murah kan? Ya iyalah, soalnya saat itu masih banyak orang yang ngga tahu kalo Lion sekarang menerbangi rute ke Bangkok dan Chiang Mai, yang dijuluki: The rose of the north".

Sebetulnya tujuan kami berdua tadinya adalah Mae Hong Son, dan Chiang Mai hanya sekedar numpang lewat aja. Ini gara-gara nonton film Thailand berjudul "Melody" yang shootingnya di Mae Hong Son. Di film tersebut ada adegan yang diambil  di area yang penuh dengan bunga matahari bermekaran....keren abisssss... mengingatkan kami berdua saat ke  Tuscany, Italia, beberapa tahun lalu. Selain itu yang bikin kami penasaran ingin ke Mae Hong Son adalah temperatur udara yang lumayan dingin, apalagi saat bulan November sampai February. Kapan lagi coba bisa kedinginan di Thailand yang dikenal sebagai daerah "panas"?

Sebetulnya pengennya ke sini, ladang bunga matahari di Mae Hong Son.

Mimpi tinggal mimpi, ternyata ngga semudah itu ke Mae Hong Son karena kendala transportasi dan biaya. Kalau mau murah, naik bis dari Chiang Mai ke Mae Hong Son, tapi lamanya minta ampun, sekitar 8 jam. Belum baliknya, sementara kami hanya punya waktu 4 hari saja. Mau cepat?Naik pesawat terbang dari Chiang Mai ke Mae Hong Son. Ada Nok Air (maskapai yang moncong pesawatnya digambari paruh bebek) atau Kan Air yang ukuranpesawatnya kecilan dikit dari metro mini. Tapi harga tiketnya yang ga nahan, khususnya bagi "kere" yang pengen plesir seperti kami tapi dana cekak. Alhasil, akhirnya diputuskan batal ke Mae Hong Son dan sebagai gantinya kami akan stay di Chiang Mai saja.

Chiang Mai sendiri sebetulnya menarik untuk dikunjungi. Kalau misalnya Bangkok itu ibaratnya Jakarta dan Phuket adalah Bali, maka Chiang Mai itu mirip Jogja. Dalam artian Chiang Mai adalah kota kecil, tenang, sedikit saja bangunan tinggi dan pusat keramaian terletak di area kota tua yang dikelilingi oleh parit lebar peninggalan jaman dulu. Untuk eksplorasi kota ini, bisa dengan jalan kaki saja (asalkan Anda punya kaki yang kuat). Tidak perlu kendaraan bermotor seperti di Bangkok misalnya. Selain itu tiap malam di dekat area kota tua digelar pasar malam (night bazaar) yang menjual aneka barang murah meriah dengan kualitas bolehlah. Cocok untuk orang Indonesia yang hobby belanja! Selain itu udara di Chiang Mai pada bulan-bulan November sampai February relatif dingin. Kami saja sampai tidak perlu menyalakan AC di kamar hotel karena tanpa AC pun udara sudah dingin. Bahkan saya yang biasanya tahan tidur dengan AC tanpa selimut, kali ini harus menyerah kalah. 

So, kami sudah definit akan mengunjungi Chiang Mai. Langkah berikutnya adalah mencari penginapan murah meriah yang sesuai dengan isi kantong kami dan menentukan apa yang akan dilakukan selama di sana. Mulailah kami browsing kiri kanan depan belakang. Kebanyakan hostel yang murah meriah tapi bersih dan aman berada di area kota tua, sedangkan kami ingin lokasi yang tidak jauh dari area Night Bazaar, sementara area kota tua agak jauh dari Night Bazaar. Akhirnya kami menemukan satu hotel yang lokasinya tidak jauh dari Night Bazaar, harga terjangkau, aman dan bersih, yaitu Riverside Hotel. (www.riversidehousechiangmai.com). Ada beberapa tipe kamar yang tersedia, namun kami memilih tipe Superior yang dilengkapi AC dan TV. Harganya 700 Baht / kamar /malam termasuk makan pagi berupa toast dan buah (sekitar IDR 280.000 / malam). Lumayan kan?Ada kolam berenangnya lagi, walau kami ngga akan pake juga sih...wong udaranya dingin begitu, sapa juga yang mau berenang? Mau tau seperti apa hotelnya? Nih dia:

Kolam renang di Riverside House

Kamar tidur tipe Superior
Yang paling penting bagi kami adalah pihak hotel tidak keberatan bila kami membuat reservasi terlebih dahulu dan membayar cash upon arrival. Sedangkan hotel-hotel lain yang kami check umumnya meminta pembayaran deposit dengan kartu kredit via internet, yang karena satu dan lain hal kami hindari. Memang hotel ini tidak bisa dibandingkan dengan hotel berbintang, tapi dengan harga serendah itu, what do you expect? Lagipulakami toh akan menghabiskan sebagian besar waktu di luar, tidak di hotel.

Urusan hotel sudah kelar, nah sekarang soal acara. Tadinya kami ingin menjelajah sendiri obyek wisata yang ada di Chiang Mai dengan cara menyewa sepeda motor lalu melakukan petualangan Sherina. Namun ternyata rata-rata obyek tersebut berada lumayan jauh dari Chiang Mai. Ditambah lagi waktu kami sangat terbatas sementara kami ingin melihat sebanyak mungkin obyek wisata yang ada (biasa...ogah rugi), akhirnya kami putuskan untuk memakai jasa tour operator yang banyak bertebaran di Chiang Mai. Ternyata di sana banyak tour operator yang menawarkan paket tour Seat in Coach (budget tour kalau istilah mereka). Apa itu Seat in Coach? Ini adalah tour dimana pesertanya adalah tamu dari beberapa tour operator yang berbeda namun memilih obyek wisata yang sama dan pada hari yang sama pula. Maka digabunglah mereka sehingga menjadi grup dan harganya menjadi lebih murah. Kalau misalnya tidak mau gabung dengan orang lain (private tour) ya bisa juga, tapi harganya akan lebih tinggi. Untuk kami berdua yang memilik motto "Biar kere asal blagu", jelas opsi budget tour adalah pilihan yang terbaik Tinggal sekarang menentukan tour operator mana yang akan dipakai. Setelah browsing lagi dan lagi, kami menemukan situs My Chiang Mai Tour (www.mychiangmaitour.com). Kenapa kami pilih mereka? Selain harga mereka yang relatif lebih rendah sedikit dibanding kompetitor, jawaban yang cepat, tapi yang terutama adalah soal kepercayaan. Tadinya Ms Bee dari My Chiang Mai Tour meminta pembayaran deposit dengan kartu kredit, namun setelah dijelaskan bahwa kami tidak mau pakai kartu kredit dan akan bayar cash setibanya di sana, dia meluluskan permintaan kami.Padahal hal tersebut termasuk berisiko mengingat kami mengambil beberapa tour sekaligus dan salah satunya ada yang dilakukan pada hari pertama kami tiba di Chiang Mai. Seandainya kami "nakal" dan mendadak batal, dia bisa terkena penalti karena sudah memesan tempat, mobil dan sebagainya. Apalagi dia ngga pernah kenal saya sebelumnya sehingga kemungkinan tertipu semakin besar. Saya saja yang juga bekerja di travel agent masih mikir 10 x kalau ada tamu yang pesan tour dan akan bayar pada Hari-H. Lha dia? Makanya, karena tersentuh dengan kebaikan dan kepercayaan dia pada kami, kami putuskan untuk memakai jasanya. Ternyata setelah ketemu dengan yang bersangkutan, orangnya emang baik dan ramah walau kantornya kecil (ngga nyambung ya?).

Di kantor My Chiang Mai Tour dengan Ms Bee (yang berdiri pakai rok kuning)
 Dari tadi ngomongin hotel dan tour melulu, tapi kayak apa kota Chiang Mai sendiri? Nih dia beberapa sudut-sudut kota Chiang Mai:

Suasana Night Bazaar di Chiang Mai

Alun-alun Chiang Mai dengan patung 3 raja

Di tepi Sungai Ping

Pasar Warorot

Jembatan besi di atas Sungai Ping

Di Chiang Mai sendiri ada beberapa obyek wisata yang kerap dikunjungi turis, namun yang saya ceritakan disini hanyalah obyek-obyek wisata yang kami kunjungi saat itu, yaitu:

Doi Suthep:
Ini adalah pagoda utama di Chiang Mai dan terletak sedikit di luar kota Chiang Mai, yaitu di gunung (Doi dalam bahasa setempat) Suthep. Di pagoda ini tersimpan relik Sang Buddha, Sidharta Gautama, berupa salah satu tulang bahunya. Itu sebabnya pagoda ini dianggap suci oleh umat Buddha di Thailand dan merupakan salah satu pagoda yang populer di Chiang Mai. Karena lokasinya yang berada di dataran tinggi, maka pengunjung yang ingin ke sana harus menaiki anak tangga yang jumlahnya 309 buah dan diapit pegangan berupanaga, atau menaiki kereta kabel dengan membayar sekitar 30 Baht per orang. Dari pelataran pagoda, Anda dapat menikmati keindahan kota Chiang Mai dari ketinggian.

Deretan lonceng di Doi Suthep Temple

Tangga naga menuju Doi Suthep

Doi Suthep

Doi Inthanon:
Ini juga pagoda yang terletak di luar kota Chiang Mai, namun keistimewaannya adalah pagoda ini terletak di puncak gunung tertinggi di Thailand, yaitu Gunung (Doi) Inthanon. Pagoda ini sendiri terletak di dalam Doi Inthanon National Park.Di sana terdapat 2 pagoda, yang satu didirikan pada tahun 1987 untuk memperingati ulang tahun ke 60 Raja Thailand Bhumibol Aduljadej (sehingga sering disebut  The King Pagoda) dan yang kedua didirikan sebagai peringatan ulang tahun ke 60 Ratu Sirikit pada tahun 1992 sehingga sering disebut  The Queen Pagoda. Dari halaman pagoda ini pemandangan luar biasa indah karena awan berada di bawah kita.

Air terjun di jalan menuju Doi Inthanon Temple

King's Temple Doi Intahon

Pemandangan dari pelataran Doi Inthanon

White Temple
Terletak di Propinsi Chiang Rai, pagoda ini meiliki keunikan tersendiri dibanding pagoda lain di Thailand. Keunikannya bukan hanya terletak pada warnanya yang serba putih (sehingga disebut White Temple, kecuali bangunan toilet yang dicat dengan warna kuning emas), namun juga arsitekturnya yang luar biasa unik. Memberikan gambaran neraka dan surga, di pagoda ini pengunjung akan berjalan melewati jembatan yang dibawahnya terdapat ratusan tangan yang menggapai dari dalam lubang neraka, serta ada kepala-kepala iblis. Jembatan itu sendiri menuju ke suatu ruangan kecil yang di dalamnya terdapat patung Buddha berwarna emas dan bagian interior ruangan dilukis dengan gambaran Nirwana. Anda tak akan menjumpai pagoda seunik ini di tempat lainnya - setidaknya sampai saat ini -karena itu jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjunginya.

"Alkohol membawamu ke neraka" demikian salah satu pesan di White Temple

White Temple, Chiang Rai.

Tangan yang menggapai dari dasar neraka


Golden Triangle
Dinamakan demikian karena area ini berbentuk segi tiga imajiner yang terbentuk dari pertemuan perbatasan 3 negara, yaitu Thailand, Myanmar dan Laos. Di masa lampau aea ini terkenal sebagai penghasil utama opium di Asia dan merupakan daerah tak bertuan yang dikuasai oleh raja opium Khun Sa. Namun setelah kehancuran bisnis Khun Sa, tidak ada lagi ladang opium yang tersisa dan area ini sekarang menjadi area turisme. Bagi pengunjung yang datang ke area ini, kalau mau mereka bisa menyeberang ke area Laos tanpa memerlukan visa atau passport untuk mengunjungipasar yang terdapat di sana, yang menjual aneka barang buatan lokal maupun import dari China. Cukup dengan membayar 30 Baht saja per orang untuk biaya ijin masuk Laos.

Di areaGolden Triangle

Kapal yang kami tumpangi di Sungai Mekong untuk menyeberang ke Laos

Pasar di wilayah Laos

Selamat datang di Laos

Long Neck Karen
Tak jauh dari area Golden Triangle ini ada perkampungan Suku Karen Leher Panjang (Long Neck Tribe), yaitu suku yang kaum wanitanya mengenakan gelang-gelang besi di lehernya dengan jumlah bervariasi. Gelang-gelang ini mulai dienakan saat mereka masih kecil hingga dewasa dan seiring pertambahan usia, jumlah gelang yang dipakai juga bertambah sehingga leher merekapun  menyesuaikan diri dengan bertambah panjang. Alasan utama pemakaian gelang ini adalah selain sebagai alat keamanan untukmencegah gigitan harimau di tengkuk mereka  (karena di masa lalu banyak wanita leher panjang yang bekerja di perkebunan karet dan sering ada kejadian macan menerkam manusia), juga untuk alasan kecantikan...setidaknya dari sudut pandang mereka. Yang menakjubkan adalah, gelang-gelang tersebut ternyata beratnya lumayan juga, paling tidak sekitar 3 - 5 kg! Kebayang ngga pakai gelang seberat itu di leher setiap hari? Satu hal lagi, entah kenapa kok rasanya wajah wanita dewasa suku leher panjang inipada mirip ya satu sama lain? Ga hanya model rambutnya saja yang mirip, tapi juga mukanya. Apa ngga bingung tuh ya suaminya? Atau mata saya aja yang siwer?

Papan penunjuk ke permukiman Suku Karen Long Neck

Suasana di perkampungan Long Neck Karen

Salah satu "foto model" Long Neck Karen


Kanthok Dinner
Yang satu ini bukanlah nama tempat, tetapi jamuan makan ala suku Lanna yang merupakan suku asli Thailand Utara. Keunikan hidangan Kanthok Dinner adalah makanan disajikan di atas semacam meja kayu bundar kecil dan hidangan ditempatkan dalam mangkuk-mangkuk kecil, disantapdengan nasi atau ketan putih. Hidangan ini terdiri dari daging, gorengan, sayur, kentang goreng manis dan ayam. Hidangan dinikmati sambil lesehan atau duduk di kursi biasa seraya menikmati pertunjukkan tarian rakyat Thailand. Saya pribadi menyukai jamuan makan Kanthok ini karena rasanya berbeda dari hidangan Thailand yang sudah umum dikenal seperti Toom Yam, ayam daun pandan dan sejenisnya. Ada pengalaman baru yang bisa didapatkan disini. Namun untuk umat muslim, saat booking tempat di jamuan Kanthok Dinner, pastikan untuk meminta menu halal karena daging yang biasanya dihidangkan adalah daging babi. Untuk mereka yang mengunjungi Chiang Mai, mencicipi Kanthok Dinner sangat disarankan!!!

Kanthok Dinner


Begini nih duduk di Kanthok Dinner

Hidangan yang disajikan

Tarian rakyat Thailand yang dipertontonkan saat para tamu menikmati hidangan
Demikianlah cerita saya kali tentang petualangan di Chiang Mai. Nanti kalau ada cerita lain tentang perjalanan ke negara atau tempat lain, pasti saya bagi-bagi cerita lagi. Ciaooo...!!



Sabtu, 02 Februari 2013

Menjelajah Cina selatan

Pada tanggal 14 - 18 Januari 2013 saya mendapat kesempatan untuk menjelajah kota di China bagian selatan, yaitu Guangzhou dan Humen. Memanfaatkan fasilitas tiket khusus dari China Airlines, saya terbang ke China melalui Hong Kong. Lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pada tanggal 14 Januari jam 00.50 lepas tengah malam, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Chek Lap Kok Hong Kong sekitar jam 07.00 pagi waktu setempat. Setelah membersekan urusan imigrasi dan mengambil bagasi, saya dan rombongan yang berjumlah 12 orang mulai celingak celinguk mencari sopir yang bertugas menjemput kami. Kami akan menggunakan 2 Toyota Alphard dari Hong Kong menuju Guangzhou, dan perjalanan diperkirakan memakan waktu tempuh sekitar 2,5 - 3 jam, tergantung dari kepadatan di pos perbatasan Hong Kong - China. Nah, itu dia sopir kami telah menanti. Maka dimulailah petualangan kami menjelajah China Selatan. Guangzhou, here we come!!!


Jembatan yang banyak terdapat di Hong Kong

Di perbatasan Hong Kong - China daratan


Setelah menyusuri jalanan di Hong Kong dengan melintasi banyak jembatan, kami tiba di pos perbatasan Hong Kong - China daratan. Karena saat itu masih relatif pagi, tidak banyak antrian kendaraan. Pemeriksaan berjalan cepat dan lancar; para penumpang van dan sedan tidak perlu turun dari kendaraan, cukup kasih passport dan setor muka, stempel dan beres sudah! Beda halnya dengan penumpang umum Hong Kong - China, mereka wajib turun dari bis sambil membawa semua barang bawaannya lalu antri di imigrasi untuk dicap passportnya. Setelah itu baru naik kembali ke bis untuk meneruskan perjalanan.

Hotel Guangzhou Pin Guan

 Lepas tengah hari kami tiba di Hotel Guangzhou Pin Guan, Guangzhou, tempat kami menginap. Walau terletak di selatan China, udara di Guangzhou saat itu masih lumayan dingin, sekitar 15 - 17 derajat Celsius. Orang-orang yang berlalu lalang semuanya mengenakan jaket, celana panjang dan kaum wanitanya banyak yang mengenakan sepatu boot untuk melawan hawa dingin. Ini berlawanan sekali dengan suasana Guangzhou saat musim panas dimana banyak orang hanya mengenakan singlet saking panasnya udara. Saya mah seneng-seneng aja dengan udara dingin ini karena jadi enak buat berjalan-jalan. Hotel tempat kami menginap tergolong hotel tua, tapi lokasinya lumayan strategis karena dekat dengan beberapa pusat perbelanjaan, khususnya Beijing Lu (Beijing Road) yang merupakan "Orchard"-nya Guangzhou. 

Sudut-sudut Beijing Street
 
Situs tembok kota tua Gungzhou
Bagi para pelancong yang ingin melihat aneka tempat wisata atau keindahan alam, mungkin tidak banyak yang bisa dilihat di Guangzhou. Namun bagi mereka yang hobby berbelanja, maka Guangzhou adalah surganya. Di sini bisa Anda dapatkan aneka barang berbagai jenis, dari yang orisinil, semi orisinil sampai jiplakan dengan harga yang relatif terjangkau. Pakaian, sepatu, mainan, alat-alat rumah tangga dan berbagai produk lainnya hampir semuanya bisa dijumpai disini. Biasanya sih koper para turis akan beranak pinak sepulangnya dari Guangzhou. 

Jangan lupakan pula wisata kuliner, Guangzhou menawarkan aneka hidangan yang lezat-lezat. Berbicara tentang wisata kuliner, ada satu kebiasaan menarik yang saya jumpai selama di Guangzhou (dan juga Humen yang merupakan kota tetangga). Saat kita akan bersantap di restoran (biasanya restoran besar) para pengunjung akan dihidangkan teh panas dan mangkuk. Tadinya saya kira teh itu untuk minum, ternyata teh panas tersebut digunakan untuk membasuh peralatan makan yang akan kita pakai bersantap dan air limbahnya akan ditampung dalam mangkuk yang telah disediakan. Hal ini bukan karena peralatan makan yang disediakan kotor, bahkan sebaliknya mereka bersih mengkilat dan disegel dalam plastik tertutup. Tapi hal ini lebih merupakan kebiasaan rakyat setempat, khususnya dari suku Hunan kalau saya ngga salah. Seingat saya kebiasaan macam ini tidak saya jumpai waktu mengunjungi Beijing dan Shanghai...atau saya aja kali ya yang ngga tau saat itu? Hehe..

Fish market di Guangzhou
  
Guangzhou Tower

Senin, 12 November 2012

Tempat ibadah

Di Penang dengan mudah dapat dijumpai beraneka macam tempat ibadah dari berbagai agama dan kepercayaan.Setiap tempat ibadah memiliki ciri khasnya masing-masing dengan keindahan arsitektural yang berbeda pula. Silahkan lihat di bawah ini foto-foto dari beberapa tempat ibadah yang terdapat di Penang.

Kuil Hindu yang terdapat di puncak Penang Hill

Salah satu mesjid yang terdapat di Penang
 
Gereja Katolik Penang yang berusia 200 tahun

Kek Lok Si Temple


Patung Buddha di dalam Thai Buddha Temple

Patung Buddha di dalam Burmese Buddha Temple
 
Tangga menuju klenteng di Khoo Kongsi

Rabu, 07 November 2012

Kuliner

Kuliner merupakan salah satu daya tarik utama bagi para pelancong yang berkunjung ke Penang, apalagi yang gemar makan enak seperti saya. Di Penang dapat dengan mudah kita temukan berbagai penjaja makanan, mulai dari kelas pinggir jalan (street hawker) sampai dengan kelas restoran yang mahal. Makanan khas Penang yang terkenal diantaranya char kwee teow (kwetiau kalo kata orang Jakarta), nasi kandar yang merupakan makanan khas warga keturunan India dan aneka kue basah seperti kue apong, onde-onde, dan sebagainya.


Harga makanan kelas pinggir jalan ini relatif murah. Misalnya seporsi kweetiauw goreng hanya dihargai RM 10, lalu teh tarik hanya RM 3 dan seterusnya. Walau harga murah, ngga berarti rasanya ngga keruan. Justru itu yang hebat dari Penang, makanan murah tapi rasa oke banget. Pokoknya sipp banget dah ah!

Menikmati jajanan di pinggir jalan

Salah satu pedagang street hawker


Jajaran pedagang di Jalan Pulau TikusKuliner

Pedagang kue apong, salah satu kue khas Penang.


Pedagang nasi Kandar yang tersohor di Penang, Line Clear.





Bukit Bendera (Penang Hill)

Bukit BenderaBukit Bendera atau Penang Hill adalah satu-satunya bukit yang terdapat di Pulau Penang. Tempat ini sekaligus merupakan titik tertinggi di Penang dan merupakan tempat terbaik untuk mendapatkan pemandangan kota Georgetown dan Selat Malaka. Udara dipuncak bukit ini juga relatif lebih nyaman dan sejuk di banding udara di Georgetown yang lumayan lembab dan bikin orang keringetan.


Gimana caranya kalau mau ke Bukit Bendera ini? Kita bisa naik taksi atau bus ke sana, lalu di kaki bukit beli tiket funicular (semacam kereta khusus untuk mendaki bukit yang jalannya doyong ke depan seperti pohon kena badai). Antrian untuk beli tiket lumayan panjang, bisa sekitar setengah jam. Harga tiket sendiri RM 30 / orang untuk perjalan pergi pulang, dan lama perjalanan sekitar 8 - 10 menit. Setibanya di atas, selain bisa menikmati pemandangan indah (apalagi kalau malam, hmmm...), ber-narsis ria (foto-foto, maksudnya) kita juga bisa bersantai di salah satu kedai makan yang terdapat di puncak bukit. Selain itu di sana juga terdapat kuil Hindu.

Usai membeli tiket di kaki Bukit Bendera

Furnicular menuju puncak Bukit Bendera

Di dalam funicular
 
Stasiun funicular

Pemandangan dari puncak Bukit Bendera




Bukit Bendera